RSS

Legenda Joko Tingkir

28 Jun

Nama aslinya adalah Mas Karèbèt, putra Ki Ageng Pengging. Ketika ia dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir. Kedua ki ageng ini adalah murid Syekh Siti Jenar. Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.

Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kesultanan Demak. Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus. Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula. Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki Ageng Tingkir).

Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda yang gemar bertapa, dan dijuluki Jaka Tingkir. Guru pertamanya adalah Sunan Kalijaga. Ia juga berguru pada Ki Ageng Sela, dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng yaitu, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.

Babad Tanah Jawi selanjutnya mengisahkan, Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Di sana ia tinggal di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid Demak berpangkat lurah ganjur. Jaka Tingkir pandai menarik simpati Sultan Trenggana sehingga ia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.

Beberapa waktu kemudian, Jaka Tingkir bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji kesaktiannya dan Dadungawuk tewas. Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak.

Jaka Tingkir kemudian berguru pada Ki Ageng Banyubiru (saudara seperguruan ayahnya). Setelah tamat, ia kembali ke Demak bersama ketiga murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.

Rombongan Jaka Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit. Muncul kawanan siluman buaya menyerang mereka namun dapat ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut kemudian membantu mendorong rakit sampai ke tujuan.

Saat itu Sultan Trenggana sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau gila yang sudah diberi mantra. Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan Sultan di mana tidak ada prajurit yang mampu melukainya.

Jaka Tingkir tampil menghadapi kerbau gila. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Sultan Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.

Kisah dalam naskah-naskah babad tersebut seolah hanya kiasan, bahwa setelah dipecat, Jaka Tingkir menciptakan kerusuhan di Demak, dan ia tampil sebagai pahlawan yang meredakannya. Oleh karena itu, ia pun mendapatkan simpati Sultan kembali.

Prestasi Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi. Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai bupati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempaka, putri Sultan Trenggana.

Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, putranya yang bergelar Sunan Prawoto naik takhta, tapi kemudian tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Kalinyamat, menantu Sultan Trenggana yang menjadi bupati Jepara.

Kemudian Arya Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi gagal. Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang.

Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto) mendesak Adiwijaya agar menumpas Arya Penangsang karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang tersebut. Adiwijaya segan memerangi Arya Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak.

Maka, Adiwijaya pun mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Arya Penangsang akan mendapatkan tanah Pati dan Mataram sebagai hadiah.

Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga menewaskan Arya Penangsang di tepi Bengawan Sore.

Setelah peristiwa tahun 1549 tersebut, Ratu Kalinyamat menyerahkan takhta Demak kepada Adiwijaya. Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Adiwijaya sebagai sultan pertama.

Sultan Adiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikan menteri berpangkat ngabehi.

Sesuai perjanjian sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki Ageng Pati. Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan masih menunggu karena seolah-olah Sultan Adiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram.

Sampai tahun 1556, tanah Mataram masih ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah kedua muridnya itu. Ternyata, alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya ketika mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang. Ramalan itu didengarnya saat ia dilantik menjadi sultan usai kematian Arya Penangsang.

Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya agar menepati janji karena sebagai raja ia adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah setia kepada Pajang. Ki Ageng bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu.

Tanah Mataram adalah bekas kerajaan kuno, bernama Kerajaan Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram. Meskipun hanya sebuah desa namun bersifat perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki Ageng Mataram, hanya diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin sebagai bukti kesetiaan tanpa harus membayar pajak dan upeti.

Saat naik takhta, kekuasaan Adiwijaya hanya mencakup wilayah Jawa Tengah saja, karena sepeninggal Sultan Trenggana, banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan diri.

Negeri-negeri di Jawa Timur yang tergabung dalam Persekutuan Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya. Persekutuan adipati tersebut sedang menghadapi ancaman invansi dari berbagai penjuru, yaitu Pajang, Madura, dan Blambangan.

Pada tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri Kedaton menjadi mediator pertemuan antara Sultan Adiwijaya dengan para adipati Bang Wetan. Sunan Prapen berhasil meyakinkan para adipati sehingga mereka bersedia mengakui kedaulatan Kesultanan Pajang di atas negeri yang mereka pimpin. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya.

Selain itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi menantunya.

Dalam pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya meramalkan bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng tersebut.

Mendengar ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena ia menyerahkan semuanya pada kehendak takdir

Sutawijaya adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang juga menjadi anak angkat Sultan Adiwijaya. Sepeninggal ayahnya tahun 1575, Sutawijaya menjadi penguasa baru di Mataram, dan diberi hak untuk tidak menghadap selama setahun penuh.

Waktu setahun berlalu dan Sutawijaya tidak datang menghadap. Adiwijaya mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil untuk menanyakan kesetiaan Mataram. Mereka menemukan Sutawijaya bersikap kurang sopan dan terkesan ingin memberontak. Namun kedua pejabat senior itu pandai menenangkan hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang disampaikan secara halus.

Tahun demi tahun berlalu. Adiwijaya mendengar kemajuan Mataram semakin pesat. Ia pun kembali mengirim utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Kali ini yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantu yang menjadi adipati Tuban), serta Patih Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya. Di tengah keramaian pesta, putra sulung Sutawijaya yang bernama Raden Rangga membunuh seorang prajurit Tuban yang didesak Arya Pamalad. Arya Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya sekeluarga.

Maka sesampainya di Pajang, Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya, sedangkan Pangeran Benawa menjelaskan kalau peristiwa pembunuhan tersebut hanya kecelakaan saja. Sultan Adiwijaya menerima kedua laporan itu dan berusaha menahan diri.

Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang, bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui Ratu Sekar Kedaton (putri bungsu Adiwijaya). Ayah Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang karena diduga ikut membantu anaknya.

Ibu Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya pun mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang.

Perbuatan Sutawijaya itu menjadi alasan Sultan Adiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang antara kedua pihak pun meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak, namun menderita kekalahan. Adiwijaya semakin tergoncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung tersebut.

Adiwijaya menarik pasukannya mundur. Dalam perjalanan pulang, ia singgah ke makam Sunan Tembayat namun tidak mampu membuka pintu gerbangnya. Hal itu dianggapnya sebagai firasat kalau ajalnya segera tiba.

Adiwijaya melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya, sehingga harus diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya, membuat sakitnya bertambah parah.

Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya, karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua.

Adiwijaya alias Jaka Tingkir akhirnya meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya.

Sultan Adiwijaya memiliki beberapa orang anak. Putri-putrinya antara lain dinikahkan dengan Panji Wiryakrama Surabaya, Raden Pratanu Madura, dan Arya Pamalad Tuban. Adapun putri yang paling tua dinikahkan dengan Arya Pangiri bupati Demak.

Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus (pengganti Sunan Kudus) untuk menjadi raja. Pangeran Benawa sang putra mahkota disingkirkan menjadi bupati Jipang. Arya Pangiri pun menjadi raja baru di Pajang, bergelar Sultan Ngawantipura.

Sayyidina Abdurrohman (Jaka Tingkir), salah satu garis keturunannya…

**Sayyidina Abdul Halim (P. Benawa),

** Sayyidina Abdurrohman (P. Samhud Bagda),

** Sayyidina Abdul Halim,

** Sayyidina Abdul Wahid,

** Sayyidina Abu Sarwan.

** Sayyidina KH. As’ari,

** Sayyidina KH. Hasyim As’ari

** Sayyidina KH. Abdul Wahid Hasyim

**KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Source : http://kaskus.us/showthread.php?t=875727

 
33 Komentar

Ditulis oleh pada J Juni 2008 in Al-Kisah

 

33 responses to “Legenda Joko Tingkir

  1. gilang

    J April 2009 at 6:22 pm

    iki beneran opo cuma buat popularitas aja..

     
    • Raden Jaka Tingkir

      J September 2011 at 7:49 pm

      ini beneran aku bialah igin tau kebeneran nya km kerumah aku aku lah anak jujuh nya raden joko tingkir, dan silsilanya ada pada aku……….
      rumah aku di malang, kcntan:pagelaran,desa,kanigoro, nama sayah adeh wisnuh satriawan

       
  2. admin

    J Desember 2009 at 4:58 am

    Siapapun keturunannya, Joko tingkir tetap seorang raja yang baik dan bijaksana, terutama dalam meredam konflik dalam keluarganya (demak maupun mataram). Dalam pesannya ketika mataram berlaku tidak baik kepadanya bahwa semua adalah takdir dan anak keturunannya tidak perlu membalas dendam, itu suatu kemenangan yang sesungguhnya. Mataram seharusnya berterima kasih kepada Joko Tingkir.

     
    • Raden Jaka Tingkir

      J September 2011 at 7:52 pm

      sayah sebagai anak jujuh nya raden joko tingkir sayah akan bersikap sebagai yg di wasiat kakeh buyut sayah

       
  3. Tikno kariyo

    J Januari 2010 at 8:53 am

    sultan Hadi wijoyo merupakan raja besar, karna klo gak ada kraton pajang dipastikan gak ada repubklik tercinta.’Indonesia.’.

     
  4. febi aliana

    J Juli 2010 at 3:46 am

    tulisan ya bnyak bnget sich ,,, jdi mlz baca aq !!!

     
  5. joko tingkir

    J Agustus 2010 at 11:51 pm

    babad tanah jawa mengisahkan joko tingkir secara detail. yang ingin saya tanyakan,apa betul joko tingkir ini benar-benar ada? soalnya sesepuh saya mengklaim sebagai keturunan joko tingkir

     
  6. Suryadi

    J Oktober 2010 at 7:55 am

    Doain ya… kami sedang menggarap opera Joko Tingkir sebagai bahan pembelajaran cinta tanah air dan kekayaan budaya bangsa. Joko Tingkir merupakan sosok yang penuh teladan yang harus dikenalkan kepada generasi sekarang. doakan

     
  7. Toha

    J November 2010 at 3:32 pm

    bila punya silsilah joko tingkir kirim dong ke-email untuk menyusun sejarah di desaku yang ada kaitnya dengan joko tingkir

     
  8. w.latif trenggono

    J Februari 2011 at 8:23 am

    banyak kesalahan dgn silsilah ataupun sejarah joko tingkir,alias mas karebet,karebet bukanlah anak dari ki pengging akan tetapi anak dari raja mataram yang mempunyai selir di desa tingkir,karebet adalah mantu dari raja demak karena menang sayembara mengalahkan kebo kanigoro,dan kebo kenongo adalah leluhur dari karebet.sunan kalijaga adalah guru silat dan guru hikmahnya tentang islam.telusuri secara detail tp jgn kesampingkan batiniah,kaum supranatural mkn tahu karebet tidak meninggal akan tetapi hilang,yang bisa disebutkan dgn TILEM

     
    • yanto ireng

      J April 2011 at 6:22 pm

      ma,af ikut menjelaskan.sblm ada mentaram lebih dulu demak trus pajang br mentaram sy pemain ketoprak siswo bdy dan wahyu bdy juga pecinta sejarah.sy setuju sejarah di atas.tp ada kesalahan dikit.mas wilo.,mas wuragil adalah pemanahan dan penjawi.okeeeeeee…..?

       
  9. agus

    J Maret 2011 at 7:38 am

    Kalau tahu siapa saja putra putri KH. As’ari,karena aku ingin tahu ,kata ibuku leluhurku putri dari beliau KH.as’ari. Terima kasih atas bantuannya.

     
  10. arsykalam

    J April 2011 at 10:16 am

    siapa keturunan berikutx?

     
  11. markus

    J Mei 2011 at 1:49 pm

    ceritanya bagus sakali lho

     
  12. Bonek waru

    J Agustus 2011 at 2:46 am

    Biarpun critanx beda ma yg sya thu, yg pentng inti dlam crita trsebt yg kita ambil.. “jangan sampai terjadi permusuhan sesama saudara, apalagi sebangsa dan se tanah air. Kta smua saudara”

     
  13. Wyny

    J September 2011 at 11:56 pm

    Ok_ok_ok *_0

     
  14. Raden Jaka Tingkir

    J September 2011 at 7:55 pm

    yg igin tau kebenaran nya datang pada sayah

     
  15. muhammad joko setiawan

    J Oktober 2011 at 1:53 pm

    apalah arti sebuah silsilah tanpa di barengi dengan cinta kepada Allah dan menjauhi larangannya….
    karena para pendahulu kita adalah orang2 yang berjuang untuk menegakkan perintah2 Allah dan menyiarkan islam sebagai penyempurna agama…
    saya bukan siapa2,saya lahir di dalam keadaan non islam, namun islam mengajarkan saya tentang kerendahan hati dan alhamdulillah hikmat itu datang kepada saya…
    dan semoga jalan saya ditunjukan untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dan semoga Allah menuntun jalan saya kepada jati diri yang sejati. :)

     
  16. dedy irawan

    J Oktober 2011 at 5:48 am

    yang jelas perbedaan adalah rahmat jadi jangan dipersoalkan yang perlu kita kaji dan perbaiki saat ini adalah aqidah dan akhlak bangsa ini yang semakin hari semakin bobrok.

     
  17. Nara Sri Suparmi

    J Oktober 2011 at 11:36 am

    oke2 semoga negara ini bisa berjalan dgn baik,jujur,adil,mengayomi rakyat.pejabat2nya beriman,beraklak mulya,berhati bersih….

     
  18. JONEDI /JENDROSAPUTRO

    J Oktober 2011 at 8:45 am

    kalau bisa cerita maesa jenar jangan sepenggal -sepenggal.

     
  19. JONEDI /JENDROSAPUTRO

    J Oktober 2011 at 8:51 am

    KALAU BISA CERITA MAESA JENAR JANGAN DIPOTONG-POTONG.

     
  20. taufik rohman al bantani

    J Oktober 2011 at 12:36 pm

    sultan hadi wijoyo alias jaka tingkir mempunyai guru sunan kali jaga ,, sunan kali jaga keturunan dari sultan hassanudin banten,, satu mash kturunan sri agung pajajaran dari syeikh syarif hidayatullah alias sunan gunung jati,,,,

     
  21. al bantani

    J Oktober 2011 at 12:14 pm

    taufik rohman klo nggk tau sejarah ngk usah nimbrung dech…..bikin rusak sejarah

     
  22. abdul rosid

    J November 2011 at 12:43 pm

    Masih ada keturunanya sampai skg

     
  23. githa

    J Desember 2011 at 10:17 am

    dongengnya ngga seru ah…

     
  24. bernadette fiana

    J Februari 2012 at 9:40 am

    bener gx nih. makasih dah bwt nilai gw bagus

     
  25. artoheart

    J Juli 2012 at 1:09 pm

    joko tingkir banyak istri dan selir, jadi keturunannya ada dimana2…

     
  26. Arya ,,,

    J Juli 2012 at 3:07 am

    Klo masalah jaka tingkir ,,,zaman sekarang ini,,,emang susah kita percayai,,soalnya zaman sekarang orang banyak bilang yang NYATA 2 AJA,,klo menurut aq kita ambil sisi baiknya,,kita tinggal sisi jeleknya,, zaman para wali dulu menggajarkan agama allah,,jngn salah paham mengarti kanya,,bisa jdi musrix,,

     
  27. try indah wijayanti

    J Juli 2012 at 4:35 am

    it’s good

     
  28. al-faqir

    J September 2012 at 8:09 pm

    kita ni,smuax msh kturunan para ulama,auliya,wali dst.toh klo d tlusuri trs akhir2x ktmu sm nabi adam&hawa.skrg mari kita lanjutkan perjalanan mreka(ulama,auliya,wali)

     
  29. Ki IsMoYo

    J Maret 2014 at 4:48 pm

    Tul.. Mulai Manusia Pertama sudah turun ajakan BerTAUHID, makanya ga perlu ngotot untuk nguri2 ajaran yang nyelisihi TAUHID. Tetep ngotot? Teruskan saja sampai nyawa dibetot! MANTAB! namanya juga Keyakinan ga boleh dipaksa2..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: