<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>masjamal - catatan yang tertunda &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://masjamal.wordpress.com/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://masjamal.wordpress.com</link>
	<description>Jasa Instalasi Tower Triangle &#124; Jasa Instalasi Jaringan Wireless &#124; LAN Networking &#124; Service &#38;  Pengadaan Komputer &#124; Perangkat Wireless &#124; Web Design &#124; Internet &#38; Intranet Link &#124; Network Design &#124; Internet Wireless &#124; Internet Hotspot</description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 Jul 2009 02:04:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='masjamal.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/19dbfdf77fadbebf132ee3a93b88a5f3?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>masjamal - catatan yang tertunda &#187; Artikel</title>
		<link>http://masjamal.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://masjamal.wordpress.com/osd.xml" title="masjamal &#8211; catatan yang tertunda" />
		<item>
		<title>Adab Dalam Berwudhu Dan Bersuci</title>
		<link>http://masjamal.wordpress.com/2008/07/02/adab-dalam-berwudhu-dan-bersuci/</link>
		<comments>http://masjamal.wordpress.com/2008/07/02/adab-dalam-berwudhu-dan-bersuci/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 22:13:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjamal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masjamal.blogdetik.com/2008/07/02/adab-dalam-berwudhu-dan-bersuci/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syeikh Abu Nashr as-Sarraj
Syekh Abu Nashr as-Sarraj r.a  berkata:
“Adab paling awal yang dibutuhkan dalam bab wudhu dan bersuci adalah mencarl ilmunya dan mempelajarinya, mengetahui tentang fardlu dan yang sunnah-sunnahnya, apa yang dianjurkan dan yang dimakruhkan, apa yang diperintahkan dan yang dianjurkan untuk memperoleh keutamaan”.

Tentu saja untuk mengetahui dan memahaminya secara rinci tidak mungkin kecuali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjamal.wordpress.com&blog=431470&post=126&subd=masjamal&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh Syeikh Abu Nashr as-Sarraj<br />
Syekh Abu Nashr as-Sarraj r.a  berkata:<br />
“Adab paling awal yang dibutuhkan dalam bab wudhu dan bersuci adalah mencarl ilmunya dan mempelajarinya, mengetahui tentang fardlu dan yang sunnah-sunnahnya, apa yang dianjurkan dan yang dimakruhkan, apa yang diperintahkan dan yang dianjurkan untuk memperoleh keutamaan”.<br />
<span id="more-126"></span><br />
Tentu saja untuk mengetahui dan memahaminya secara rinci tidak mungkin kecuali dengan ilmu dan bertanya, membahas dan memiliki perhatian yang serius, sehingga ia bisa melakukan sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah dengan cara lebih berhati-hati mengikuti yang paling baik dan paling sempurna, menghilangkan hal-hal yang bisa saling mencela, tidak mengingkari secara hati nurani terhadap orang yang tidak menggunakan cara yang lebih berhati-hati dan yang paling baik. Sebab Aliah tetap senang biia keringanan-keringanan hukum (rukhshah)-Nya dilakukan sebagaimana Dia mencintai bila hukum-hukum asal (azimah-Nya) tetap dilakukan secara normal. Sementara itu, manusia yang iain memiliki kesibukan dan sebab-sebab yang harus dikerjaka dan diberi perhatian. Sehingga apabiia mereka menggunakan keringanan dan mengambil kelonggaran mereka pun tetap dimaafkan.</p>
<p>Adapun kaum Sufi dan orang-orang yang meninggalkan sebab akibat dunia, keluar dari segaja kesibukan serta mencurahkan dirinya untuk beribadah dan berzuhud, (karena bimbingan tertentu dari Mursyidnya, pent) maka tidak ada alasan bagi mereka untuk meninggalkan hal yang paling baik, paling bersih dan memperhatikan bagian-bagian anggota wudhu secara sempurna dan maksimal, berpegang teguh pada tindakan yang paling berhati-hati dan paling sempurna dalam bersuci dan soal kebersihan.</p>
<p>Barangsiapa tidak memiliki kesibukan selain itu, maka ia wajib curahkan segala kemampuan untuk melakukannya sesuai dengan kemampuannya. Sebab Allah swt. berfirman, “Maka bertaqwalah kalian kepada Allah sesuai kemampuan kalian (semaksimal kalian).” (Q.s. at-Taghaabun:16).</p>
<p>Saya melihat sejumlah manusia yang selalu memperbarui wudhunya setiap kali shalat. Mereka segera berwudhu sebelum masuk waktu shalat, sehingga setelah selesai berwudhu mereka langsung shalat.<br />
Diantara adab mereka adalah selalu berada dalam kondisi suci jika dalam perjalanan. Sebab yang menjadi landasan dasarnya karena mereka tidak tahu kapan kematian datang menjemput.</p>
<p>Firman Allah swt., “Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan juga tidak dapat memajukannya.“ (Q.s. al-A’raf. 34).<br />
Sehingga mereka berharap, ketika ajal menjemputnya secara mendadak, mereka tinggalkan dunia ini dalam keadaan suci.<br />
Saya pernah mendengar<br />
al-Hushri r.a, berkata, Kadang saya pernah bangun tidur di suatu malam, lalu saya tidak tidur kembali kecuali setelah memperbarui wudhuku.”<br />
Syekh Abu Nashr as-Sarraj r.a berkata: Sebab ia tidur dalam keadaan suci. Ketika ia bangun tidur dan wudhunya telah batal maka ia segera memperbaruinya. Ia telah latih untuk tidak tidur kecuali dalam keadaan suci.</p>
<p>Ada salah seorang syeikh yang masyhur dan terpandang selalu merasakan was-was ketika sedang berwudhu, sehingga ‘banyak menuangkan air saat berwudhu. Kemudian saya mendengarnya berkata, “Suatu malan aku memperbarui wudhuku untuk shalat Isya’. Aku menuangkan air ke bagian tubuhku sehingga menghabiskan separo malam. Namun hatiku belum juga yakin dan rasa was-was tidak juga hilang. Kemudian aku menangis dan berkata, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku.’ Ialu aku mendengar bisikan suara, “Wahai fulan, ampunan itu diberi jika ilmu digunakan!.”</p>
<p>Abu Nashr adalah Abu Abdillah ar-Rudzbari rahimahullah &#8211; berkata: Dikatakan bahwa syetan selalu ingin mengambil bagiannya dari seluruh amal (kegiatan) anak cucu Adam. ia tidak peduli apakah dengan mengambil bagian itu menyebabkan anak cucu Adam bertambah banyak melakukan  yang diperintah atau malah berkurang.<br />
Disebutkan dari Ibnu al-Kurraini, salah seorang guru al-Junaid bahwa suatu malam ia pernah junub. Ia mengenakan pakaian bertambal yang kasar dan tebal, dimana pakaian ini satu-satunya pakaian yang paling berharga ketika di sisi Ja’far al-Khuldi. Kemudian di malam hari ia pergi menuju pinggir sungai. Sementara cuaca pada malam itu sangat dingin, sehingga nafsunya mogok untuk mencebur ke dalam air karena sangat dingin. Namun akhirnya ia menceburkan diri ke dalam air dengan pakaian tebal yang ia kenakan tersebut. ia terus berendam di dalam air beberapa lama ia berkata, ‘Aku berniat untuk tidak melepaskan baju ini dari tubuhku sehingga ia kering.” Ternyata baju tebal yang ia kenakan itu tidak kering selama sebulan penuh. Apa yang ia lakukan adalah sebagai pelajaran dan melatih diri (nafsu)nya, karena ia mogok ketika mau menjalankan apa yang diperintah Allah untuk mandi junub.<br />
Sahl bin Abdullah &#8211; rahimahullah &#8211; menganjurkan para sahabatnya untuk banyak minurn air dan tidak banyak menumpah air di atas tanah. Ia berkata, “Sesungguhnya air itu memiliki kehidupan. Ia akan mati ketika ditumpahkan di atas tanah.” Katanya, dengan banyak minum air akan melemah nafsu, mamatikan kesenangan nafsu dan mematahkan kekuatnya.</p>
<p>Abu Amr Muhammad bin Ibrahim az-Zujaji pernah bermukim di Mekkah dalam waktu beberapa tahun, di mana tempat bermukim berada di perbatasan dengan tanah halal. Setiap ingin buang hajat ia keluar dari perbatasan tanah haram sejauh  satu farsakh ( 8 km-an), sebagaimana cerita yang saya terima ia tak pernah buang hajat di tanah haram selama 30 tahun.</p>
<p>Sementara itu, Ibrahim al-Khawwash &#8211; r.a, ketika hendak masuk di daerah pedalaman ia selalu membawa tempat air (dari kulit) yang diisi air. la hanya minum sedikit dari persedian air tersebut, karena ia mempersiapkannya untuk berwudhu.<br />
lebih mengutamakan bisa berwudhu dengan air daripada Minumnya. meskipun sangat haus.</p>
<p>Syekh Abu Nashr as-Sarraj &#8211; r.a &#8211; berkata: Aku melihat sekelompok orang Sufi berjalan di tepi sungai. Sementara mereka tidak bisa meninggalkan tempat air dari kulit atau kendi berisikan air. Hal ini dilakukan agar ketika mereka keburu ingin kencing dan tidak memungkinkannya duduk di tepi sungai dalam kondisi aurat terbuka dan bisa dilihat oleh orang, maka dengan persiapan air yang ada di kendi atau tempat dari kulit mereka akan mudah mencari tempat yang sepi, sehingga, tindakan itu bisa lebih melindungi diri mereka.<br />
Merekajuga sangat tidak suka memijit-mijit kemaluannya saat tak mampu menahan buang air kecil. Sebab akan bisa mengendorkan otot-otot yang berfungsi menahan kencing. jika sering dipijit maka akan tidak mampu menahan air kencing, dan mengakibatkan sering buang air kecil dalam kadar sedikit (beser).<br />
Mereka juga tidak suka menahan kencing kecuali memang dalam kondisi sulit mencari air dan sangat terpaksa. Saya lebih suka mengenakan celana ketimbang mengenakan sarung setelah bersuci. Sementara sarung lebih gampang dilepas ketika mau lakukan apa saja.<br />
Mereka juga menghindari mengenakan apa saja yang dilubangi dengan bulu babi, baik itu sedikit atau banyak, kering atau basah. oleh karenanya mereka lebih suka memakai sandal.</p>
<p>Dikatakan jika Anda melihat seorang Sufi yang tidak membawa bekal air, maka Anda perlu tahu, bahwa la berniat meninggalkan shalat dan siap menyingkap aurat, baik itu ia kehendaki atau tidak.<br />
Saya pernah melihat seseorang yang tinggal di tengah-tengah jamaah para ahli lbadah. Mereka berkumpul dalam satu rumah. Tapi tak seorang pun dari mereka yang melihatnya masuk atau keluar dari tempat buang air besar. Ia telah membiasakan dan melatih dirinya untuk buang air besar atau kecil dalam satu waktu, yaitu ketika ia sedang sendirian dan sepi tidak ada orang sehingga tidak ada orang yang melihatnya ia masuk atau keluar dari tempat tersebut.</p>
<p>Saya juga melihat seorang Sufi yang melatih dan membill dirinya untuk tidak kentut kecuali saat buang air besar di tempat yang sangat terpencil. Sementara ia tinggal di pedalaman dan tempat sepi. Sementara itu, Ibrahim al-Khawwash – r.a, pernah keluar dari Mekkah ke Kufah sendirian. Selama dalam perjalanan ia tidak pernah melakukan tayamum, karena ia membawa air minum yang kemudian ia gunakan untuk berwudhu.</p>
<p>Sekelompok syeikh Sufi sangat tidak suka masuk tempat  pemandian umum kecuali benar-benar sangat terpaksa. Jika terpaksa harus melakukannya, maka mereka menunggu sampai sepi tiada orang. Dan jika mereka masuk di tempat pemandian, maka tidak melepas sarungnya sampai mereka keluar. Mereka tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melihat.</p>
<p>Mereka selalu meminta agar air selalu didekatkan. Dan jika mereka berada dalam satu rombongan mereka saling menggosok badan. Jika dalam tempat mandi ada orang lain maka mereka akan menghadap tembok hingga matanya tidak melihat aurat yang lain.</p>
<p>Kalangan kaum Sufi tidak memperkenankan orang lain masuk bersamanya di tempat mandi kecuali harus memakai sarung.<br />
Dan di antara hal-hal yang dianjurkan adaah mencabuti bulu ketiak dan mencukur rambut kemaluan. Sementara orang yang tidak bisa mencukurnya dengan baik dianjurkan untuk membuat ramuan obat yang bisa menghilangkan bulu dan dilakukan di tempat yang sepi.<br />
Murid-murid Sahl bin Abdullah, antara yang satu dengan lain saling mencukur atau memotong rambutnya.</p>
<p>Saya mendengar Isa al-Qashshar ad-Dinawari &#8211; r.a, berkata, “Orang yang pertama kali memotong kumisku dengan tangannya sendiri adalah asy-Sybli. Saat itu aku menjadi pembantunya.”<br />
Syekh Abu Nashr as-Sarraj- r.a, berkata: Menyisir rambut dengan dibelah di tengah kepala menjadikan pilihan jamaah kaum Sufi, namun hal itu dimakruhkan untuk para pemuda. Ini amat baik bagi para syeikh jika mereka melakukannya demi mengikuti sunnah.</p>
<p>Sebagian syeikh Sufi mengatakan: Anggaplah bahwa kefakiran dari Allah. Lalu apa hubungannya dengan kekumuhan? Sementara yang paling disenangi kaum Sufi adalah kebersihan, mencuci pakaian, selalu membiasakan gosok gigi (siwak), mencari air yang mengalir, lapangan terbuka yang luas, dan yang ada di sudut-sudut kota, suka menyendiri di tempat (khalwat), mandi setiap hari jumat, baik di musim kemarau di musim penghujan. Mereka juga menyukai wangi-wangian, dan sebaik-baiknya “minyak wangi” adalah air yang mengalir.  Mereka selalu mandi, memperbarui wudhu dan menyempurnakannya.</p>
<p>Bukanlah kategori was-was seseorang yang berusaha suci semaksimal mungkin dengan cara menjauh dan mencari air mengalir meskipun ia tempuh dalam perjalanan yang jauh. Juga bukanlah termasuk was-was jika seseorang mendapatkan air yang telah berubah dengan mencari tempat-tempat yang suci, dan menyiramkan air bersih pada anggota tubuh bagian dalam dan kulit sela-sela anggota tubuh bagian dalam, bagian-bagian kulit mengkerut, menghirupnya hingga mencapai ujung hidung dan menuangkan air pada seluruh anggota tubuh, bagian kulit, baik saat berwudlhu atau mandi dan bersuci lainnya.</p>
<p>Juga tidak masuk dalam kategori was-was yang dilarang orang yang berhati-hati dan mencari yang paling suci dalam meniti keutamaan. Sebab semua itu masuk dalam lingkaran firman Allah swt., “Maka bertaqwalah kalian kepada Allah semaksimal kemampuan kalian.” (Q.s. at-Taghabun: 16).</p>
<p>Sedangkan was-was yang dilarang oleh syariat ialah yang menjadikan Anda keluar dari ketentuan ilmu. Yaitu jika Anda disibukkan dengan lbadah-lbadah yang bersifat keutamaan (sunnah) dengan meninggalkan lbadah-lbadah fardlu. Demikian halnya jika menyalahi aturan keilmuan. Maka batallah shalat seseorang yang berwudhu dengan hanya satu cibuk, cibuk pula.</p>
<p>Sementara itu tindakan yang benar ialah bila seorang hanya melakukan sesuai dengan waktu dan kondisi dirinya. Jika ia ingin dapatkan air yang melimpah, maka ia berwudhu dengan cukup sempurna dengan lebih berhati-hati sehingga hatinya menjadi tenang. Jika ia tidak mendapatkan air yang cukup, maka sebaliknya ia memperbarui wudhunya dan bersuci dengan air yang sedikit, sebagaimana diriwayatkan, bahwa sahabat-sahabat Rasulullah selalu berwudhu dengan air yang tidak bercampur debu.</p>
<p>Syeikh Abu Nashr as-Sarrai &#8211; r.a, berkata: Saya pernah melihat seorang Sufi yang di wajahnya ada luka yang tak kunjung sembuh dalam waktu dua belas tahun, sebab air selalu membasahi lukanya. Sementara ia tidak pernah meninggalkan memperbarui wudhunya setiap kali shalat.</p>
<p>Saya juga melihat seorang Sufi yang kedua matanya selalu meneteskan air. Keluarganya mendatangkan seorang dokter untuk mengobatinya. Mereka telah mengeluarkan banyak biaya untuk pengobatannya. Dokter berkata, “Ini bisa sembuh jika tidak sentuh air air dalam beberapa hari dan hendaknya tidur telentang.” Si Sufi ini tidak mau melakukan apa yang dianjurkan dokter, memilih lebih baik penglihatannya hilang daripada diperintahkan meninggalkan wudhu dan bersuci dengan air. Si Sufi ini tidak lain adalah Abu Abdillah Muhammad ar-Razi al-Muqri’i.</p>
<p>Diriwayatkan, bahwa Ibrahim bin Adham &#8211; r.a, punya tugas malam, di mana ia semalam bangun tujuh kali lebih. Dan setiap kali bangun ia selalu memperbarui wudhunya kemudian shalat dua rakaat.<br />
Sementara itu, Ibrahim al-Khawwash wafat di masjid jami’ Rayy saat berada di tengah-tengah air. Saat itu ia sakit perut, kemudian menceburkan diri ke dalam air dan memandikan diri dan akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.</p>
<p>Inilah yang sempat saya ingat saat ini tentang adab kaurn Sufi dalam masalah wudhu dan bersuci. Semoga Aliah senantiasa memberi taufiq kepada kita.<br />
Amin.</p>
<p>Sumber : www.sufinews.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masjamal.wordpress.com/126/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masjamal.wordpress.com/126/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masjamal.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masjamal.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masjamal.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masjamal.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masjamal.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masjamal.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masjamal.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masjamal.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masjamal.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masjamal.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjamal.wordpress.com&blog=431470&post=126&subd=masjamal&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masjamal.wordpress.com/2008/07/02/adab-dalam-berwudhu-dan-bersuci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7465a4f989ca56edcd0d0afcc28c81e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masjamal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gerbang Cinta Para Wali</title>
		<link>http://masjamal.wordpress.com/2008/07/02/gerbang-cinta-para-wali/</link>
		<comments>http://masjamal.wordpress.com/2008/07/02/gerbang-cinta-para-wali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 22:03:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masjamal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masjamal.blogdetik.com/2008/07/02/gerbang-cinta-para-wali/</guid>
		<description><![CDATA[Ada cahaya yang memendar nun jauh di sana. Tak habis-habisnya mata memandang penuh pesona. Indah dan menakjubkan, hingga tiada sesaat pun melainkan sebuah klimaks dari puncak rasa kita, terkadang seperti puncak gelombang Cinta, terkadang menghempas seperti sauh-sauh kesadaran di hempas pantai, terkadang begitu jauh di luar batas harapan, padahal ia lebih dekat dari sanubari kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjamal.wordpress.com&blog=431470&post=124&subd=masjamal&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="/DOCUME%7E1/operator/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" /><img src="http://www.sufinews.com/_me/data/upimages/avatar/_Transformation200.jpg" width="118" align="left" height="200" />Ada cahaya yang memendar nun jauh di sana. Tak habis-habisnya mata memandang penuh pesona. Indah dan menakjubkan, hingga tiada sesaat pun melainkan sebuah klimaks dari puncak rasa kita, terkadang seperti puncak gelombang Cinta, terkadang menghempas seperti sauh-sauh kesadaran di hempas pantai, terkadang begitu jauh di luar batas harapan, padahal ia lebih dekat dari sanubari kita sendiri.</p>
<p>Tiba-tiba cahaya itu ada di depan mata hati kita. Ternyata sebuah gerbang keagungan yang dahsyat penuh kharisma. Gerbang itu seakan bicara: “Akulah gerbang para kekasih Tuhan”. Sejengkal saja kaki kita melangkah, memasuki pintu gerbang itu, seluruh kesadaran kita sirna dalam luapan gelombang cinta yang digerakkan oleh kedahsyatan angin kerinduan. Kata pertama yang berbunyi di sana adalah deretan puja dan puji:<br />
<span id="more-124"></span><br />
“Segala puji bagi Allah yang telah meluapi lembah kalbu para wali-Nya dengan luapan Cinta kepada-Nya. Dia yang membangunkan istana khusus agar luapan arwah para kekasih-Nya itu, senantiasa menyaksikan keagungan-Nya. Dia pula yang menghamparkan padang ma’rifatullah melalui rahasia-rahasia jiwanya. Lalu kalbunya berada di sebuah taman surga. Taman itu penuh dengan lukisan-lukisan ma’rifatullah yang tiada tara. Sedangkan arwah-arwah mereka berada di Taman Malakut, tak sejenak pun arwah itu melainkan berada dalam keabadian penyucian pada-Nya. Duh, rahasia arwahnya, mendendangkan tasbih dalam tarian Lautan Jabarut-Nya.”</p>
<p>Lalu sebuah gerbang yang begitu agung dan indahnya, mengukirkan prasasti yang ditulis oleh Qalam Ruhani. “Segala Puja bagi Allah, yang telah membuka gerbang Cinta-Nya bagi para Kekasih-Nya. Lalu Dia mengurai rantai yang membelenggu jiwanya, sehingga mereka teguh dalam keharusan khidmah pada-Nya, sedangkan cahaya-cahaya-Nya melimpahi akal-akal mereka. Lalu tampak jelas, keajaiban-keajaiban kekuasaan-Nya, sedangkan kalbu-kalbu mereka terjaga dari haru biru tipudaya yang menumpah pada pesona-pesona cetak lahiriyah jagad semesta, sampai akhirnya menggapai ma’rifat paripurna. Amboi, ruh-ruh mereka tersingkapkan dari kemahasucian paripurna-Nya, dan sifat-sifat keagungan-Nya. Merekalah penempuh jalan hadirat-Nya, dalam kenikmatan rahasia kedekatan dengan-Nya, melalui tarekat dahsyat rindu dendam-Nya, hingga mereka termanifestasi dalam hakikat, melalui penyaksian Ketunggalan-Nya. Mereka telah diraih dari mereka, dan Dia menyirnakan mereka dari mereka, lalu mereka ditenggelamkan dalam lautan Kemaha-Dia-an-Nya. Dia memisahkan pasukan-pasukan terpencar dalam kesatuan kitab-Nya bagi para kekasih terpilih-Nya. Lalu mereka terjaga oleh kerahasiaan jiwa melalui limpahan cahaya-cahaya, agar ia menjadi obyek manifestasi, di samping ke-Tunggal-Dirian-Nya.”</p>
<p>Kalau saja kita ingin mengenal gerbang-gerbang Kekasih Allah itu, semata bukanlah hasrat dan ambisi untuk menjadi Kekasih-Nya. Sebab, mengangkat derajat seseorang menjadi Kekasih-Nya adalah Hak Allah, dan Allah sendiri yang memberi Wilayah itu kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.</p>
<p>Sekadar berkah atas cahaya kewalian dari kekasih-kekasih-Nya itu, sesungguhnya lebih dari cukup bagi kita. Sedangkan pengetahuan kita atas dunia kewalian yang menjadi bagian dari misteri-misteri Ilahi, tidak lebih dari limpahan-limpahan Ilahi, agar kita lebih yakin kepada-Nya atas keimanan kita selama ini.</p>
<p>Para Auliya Allah adalah Ahlullah. Mereka terpencar di muka bumi sebagai “tanda-tanda” Ilahiyah, dengan jumlah tertentu, dan tugas-tugas tertentu. Di antara mereka ada yang ditampakkan karamahnya, ada pula yang tidak ditampakkan sama sekali. Oleh karena itu hamba-hamba Allah yang diberi kehebatan luar biasa, tidak sama sekali disebut Waliyullah, dan belum tentu juga yang tidak memiliki kelebihan sama sekali, tidak mendapat derajat Wali Allah. Para Auliya adalah mereka yang senantiasa mencurahkan jiwanya untuk Ubudiyah kepada Allah, dan menjauhkan jiwanya dari kemaksiatan kepada Allah.</p>
<p>Di masyarakat kita, seringkali terjebak oleh fenomena-fenomena metafisikal yang begitu dahsyat yang muncul dari seseorang. Lalu masyarakat kita mengklaim bahwa orang tersebut tergolong Waliyullah. Padahal kata seorang syekh sufi, “Jika kalian melihat seseorang bisa terbang, bisa menembus batas geografis dengan cepat, bahkan bisa menembus waktu yang berlalu dan yang akan datang, janganlah Anda anggap itu seorang Wali Allah sepanjang ia tidak mengikuti Sunnah Rasulullah SAW.“</p>
<p>Mengapa? Sebab ada ilmu-ilmu hikmah tertentu yang bisa dipelajari, agar seseorang memiliki kehebatan tertentu di luar batas ruang dan waktu, dan ironisnya ilmu demikian disebut sebagai Ilmu Karamah. Padahal karamah itu, adalah limpahan anugerah Ilahi, bukan karena usaha-usaha tertentu dari hamba Allah.</p>
<p>Karamah sendiri bukanlah syarat dari kewalian. Kalau saja muncul karamah pada diri seorang wali, semata hanyalah sebagai petunjuk atas kebenaran ibadahnya, kedudukan luhurnya, namun dengan syarat tetap berpijak pada perintah Nabi SAW. Jika tidak demikian, maka karamah hanyalah kehinaan syetan. Karena itu di antara orang-orang yang saleh ada yang mengetahui derajat kewaliannya, dan orang lain tahu. Ada pula yang tidak mengetahui derajat kewaliannya sendiri, dan orang lain pun tidak tahu. Bahkan ada orang lain yang tahu, tetapi dirinya sendiri tidak tahu.</p>
<p>Tetapi di belahan ummat Islam lain juga ada yang menolak konsep kewalian. Bahkan dengan mudah mengklaim yang disebut Auliya’ itu seakan-akan hanya derajat biasa dari derajat keimanan seseorang. Tentu saja, kelompok ini sama kelirunya dengan kelompok mereka yang menganggap seseorang, asal memiliki kehebatan, lalu disebut sebagai Waliyullah, apalagi jika orang itu dari kalangan kiai atau ulama.</p>
<p>Meluruskan pandangan Kewalian di khalayak ummat kita, memang sesuatu yang rumit. Ada ganjalan-ganjalan primordial dan psikologis, bahkan juga ganjalan intelektual.</p>
<p>Al-Quthub Abul Abbas al-Mursi, semoga Allah meridlainya, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, “Waliyullah itu diliputi oleh ilmu dan ma’rifat-ma’rifat, sedangkan wilayah hakikat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan izin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diizinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”</p>
<p>“Dasar utama perkara Wali itu,” kata Abul Abbas, “adalah merasa cukup bersama Allah, menerima Ilmu-Nya, dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath-Thalaq: 3). “Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (QS. Az-Zumar: 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al-‘Alaq :14). “Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu Menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushshilat: 53).<br />
Syekh Agung Abdul Halim Mahmud dalam memberikan catatan khusus mengenai Lathaiful Minan karya as-Sakandari mengupas panjang lebar mengenai Kewalian ini. Hal demikian dilakukan karena, as-Sakandari menulis kitab itu memulai tentang wacana Kewalian, karena memang, buku besar itu ingin mengupas tuntas tentang biografi dua Waliyullah terbesar sepanjang zaman, yaitu Sulthanul Auliya’ Syekh Abul Hasan asy-Syadzili ra dan muridnya, Syekh Abul Abbas al-Mursi.</p>
<p>Dalam sebuah ayat yang seringkali menjadi rujukan utama dunia Kewalian adalah: “Ingatlah bahwa sesungguhnya para Wali-wali Allah itu tidak punya rasa takut dan rasa gelisah. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka bertaqwa. Mereka mendapatkan kegembiraan dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat. Tidak ada perubahan bagi Kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus: 62-64)<br />
Dalam salah satu hadits Qudsi yang sangat populer disebutkan, “Rasulullah SAW bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Siapa yang memusuhi Wali-Ku, maka benar-benar Aku izinkan orang itu untuk diperangi. Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai dibanding apa yang Aku wajibkan padanya. Dan hamba-Ku itu senantiasa mendekatkan pada-Ku dengan ibadah-ibadah Sunnah sehingga Aku mencintai-Nya. Maka bila Aku mencintainya, Akulah pendengarannya di mana ia mendengar, dan menjadi matanya di mana ia melihat, dan menjadi tangannya di mana ia memukul, dan menjadi kakinya di mana ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, Akupasti memberinya, jika ia memohon perlindungan kepadaKu Aku pasti melindunginya.”</p>
<p>Karenanya al-Hakim at-Tirmidzi, salah satu sufi besar generasi abad pertengahan, menulis kitab yang sangat monumental hingga saat ini, Khatamul Auliya’ (Tanda-tanda Kewalian), yang di antaranya berisi 156 pertanyaan mengenai dunia sufi, dan siapa yang bisa menjawabnya, maka ia akan mendapatkan Tanda-tanda Kewalian itu. Beliau juga menulis kitab ‘Ilmul Auliya.</p>
<p><strong>Ragam Para Wali</strong><br />
Para Syekh Sufi membagi macam para Wali dengan berbagai versi, termasuk derajat masing-masing di hadapan Allah Ta’ala. Dalam kitab Al-Mafakhirul Aliyah fi al-Ma’atsir asy-Syadzilyah disebutkan ketika membahas soal Wali Quthub. Syekh Syamsuddin bin Katilah Rahimahullaahu Ta’ala menceritakan: “Saya sedang duduk di hadapan guruku, lalu terlintas untuk menanyakan tentang Wali Quthub. “Apa makna Quthub itu wahai tuanku?” Lalu beliau menjawab, “Quthub itu banyak. Setiap muqaddam atau pemuka sufi bisa disebut sebagai Quthub-nya.</p>
<p>Sedangkan al-Quthubul Ghauts al-Fard al-Jami’ itu hanya satu. Artinya bahwa Wali Nuqaba’ itu jumlahnya 300. Mereka itu telah lepas dari rekadaya nafsu, dan mereka memiliki 10 amaliyah: empat amaliyah bersifat lahiriyah, dan enam amaliyah bersifat bathiniyah. Empat amaliyah lahiriyah itu antara lain:</p>
<p>1) Ibadah yang banyak, 2) Melakukan zuhud hakiki, 3) Menekan hasrat diri, 4) Mujahadah dengan maksimal. Sedangkan lelaku batinnya: 1) Taubat, 2) Inabat, 3) Muhasabah, 4) Tafakkur, 5) Merakit dalam Allah, 6) Riyadlah. Di antara 300 Wali ini ada imam dan pemukanya, dan ia disebut sebagai Quthub-nya.</p>
<p>Sedangkan Wali Nujaba’ jumlahnya 40 Wali. Ada yang mengatakan 70 Wali. Tugas mereka adalah memikul beban-beban kesulitan manusia. Karena itu yang diperjuangkan adalah hak orang lain (bukan dirinya sendiri). Mereka memiliki delapan amaliyah: empat bersifat batiniyah, dan empat lagi bersifat lahiriyah: Yang bersifat lahiriyah adalah 1) Futuwwah (peduli sepenuhnya pada hak orang lain), 2) Tawadlu’, 3) Menjaga Adab (dengan Allah dan sesama) dan 4) Ibadah secara maksimal. Sedangkan secara Batiniyah, 1) Sabar, 2) Ridla, 3) Syukur), 4) Malu.</p>
<p>Adapun Wali Abdal berjumlah 7 orang. Mereka disebut sebagai kalangan paripurna, istiqamah dan memelihara keseimbangan kehambaan. Mereka telah lepas dari imajinasi dan khayalan, dan mereka memiliki delapan amaliyah lahir dan batin. Yang bersifat lahiriyah: 1) Diam, 2) Terjaga dari tidur, 3) Lapar dan 4) ‘Uzlah. Dari masing-masing empat amaliyah lahiriyah ini juga terbagi menjadi empat pula: Lahiriyah dan sekaligus Batiniyah:<br />
Pertama, diam, secara lahiriyah diam dari bicara, kecuali hanya berdzikir kepada Allah Ta’ala. Sedangkan Batinnya, adalah diam batinnya dari seluruh rincian keragaman dan berita-berita batin. Kedua, terjaga dari tidur secara lahiriyah, batinnya terjaga dari kealpaan dari dzikrullah. Ketiga, lapar, terbagi dua. Laparnya kalangan Abrar, karena kesempurnaan penempuhan menuju Allah, dan laparnya kalangan Muqarrabun karena penuh dengan hidangan anugerah sukacita Ilahiyah (uns). Keempat, ‘uzlah, secara lahiriyah tidak berada di tengah keramaian, secara batiniyah meninggalkan rasa suka cita bersama banyak orang, karena suka cita hanya bersama Allah.</p>
<p>Amaliyah Batiniyah kalangan Abdal, juga ada empat prinsipal: 1) Tajrid (hanya semata bersama Allah), 2) Tafrid (yang ada hanya Allah), 3) Al-Jam’u (berada dalam Kesatuan Allah, 3) Tauhid.</p>
<p>Ragam lain dari para Wali ada yang disebut dengan Dua Imam (Imamani), yaitu dua pribadi, salah satu ada di sisi kanan Quthub dan sisi lain ada di sisi kirinya. Yang ada di sisi kanan senantiasa memandang alam Malakut (alam batin) &#8212; dan derajatnya lebih luhur ketimbang kawannya yang di sisi kiri &#8211;, sedangkan yang di sisi kiri senantiasa memandang ke alam jagad semesta (malak). Sosok di kanan Quthub adalah Badal dari Quthub. Namun masing-masing memiliki empat amaliyah Batin, dan empat amaliyah Lahir. Yang bersifat Lahiriyah adalah: Zuhud, Wara’, Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar. Sedangkan yang bersifat Batiniyah: Kejujuran hati, Ikhlas, Mememlihara Malu dan Muraqabah.</p>
<p>Wali lain disebut dengan al-Ghauts, yaitu seorang tokoh agung dan tuan mulia, di mana seluruh ummat manusia sangat membutuhkan pertolongannya, terutama untuk menjelaskan rahasia hakikat-hakikat Ilahiyah. Mereka juga memohon doa kepada al-Ghauts, sebab al-Ghauts sangat diijabahi doanya. Jika ia bersumpah langsung terjadi sumpahnya, seperti Uwais al-Qarni di zaman Rasul SAW. Dan seorang Qutub tidak bisa disebut Quthub manakala tidak memiliki sifat dan predikat integral dari para Wali.</p>
<p>Al-Umana’, juga ragam Wali adalah kalangan Malamatiyah, yaitu mereka yang menyembunyikan dunia batinnya, dan tidak tampak sama sekali di dunia lahiriyahnya. Biasanya kaum Umana’ memiliki pengikut Ahlul Futuwwah, yaitu mereka yang sangat peduli pada kemanusiaan.<br />
Al-Afraad, yaitu Wali yang sangat spesial, di luar pandangan dunia Quthub.</p>
<p>Para Quthub senantiasa bicara dengan Akal Akbar, dengan Ruh Cahaya-cahaya (Ruhul Anwar), dengan Pena yang luhur (Al-Qalamul A’la), dengan Kesucian yang sangat indah (Al-Qudsul Al-Abha), dengan Asma yang Agung (Ismul A’dzam), dengan Kibritul Ahmar (ibarat Berlian Merah), dengan Yaqut yang mememancarkan cahaya ruhani, dengan Asma’-asma, huruf-huruf dan lingkaran-lingkaran Asma huruf. Dia bicara dengan cahaya matahati di atas rahasia terdalam di lubuk rahasianya. Ia seorang yang alim dengan pengetahuan lahiriah dan batiniyah dengan kedalaman makna yang dahsyat, baik dalam tafsir, hadits, fiqih, ushul, bahasa, hikmah dan etika. Sebuah ilustrasi yang digambarkan pada Sulthanul Aulioya Syeikhul Quthub Abul Hasan Asy-Syadzily – semoga Allah senantiasa meridhoi .</p>
<p>Sumber : www.sufinews.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masjamal.wordpress.com/124/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masjamal.wordpress.com/124/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masjamal.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masjamal.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masjamal.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masjamal.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masjamal.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masjamal.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masjamal.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masjamal.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masjamal.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masjamal.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masjamal.wordpress.com&blog=431470&post=124&subd=masjamal&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masjamal.wordpress.com/2008/07/02/gerbang-cinta-para-wali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7465a4f989ca56edcd0d0afcc28c81e6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masjamal</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME%7E1/operator/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.sufinews.com/_me/data/upimages/avatar/_Transformation200.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>